Potensi Batu Gamping di Banten

Latar Belakang
Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara membawa konsekuensi adanya nuansa baru, paradigma baru dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan di republik ini, dimana sudah secara tegas dijelaskan tentang kewenangan masing-masing level pemerintahan dalam mengelola pertambangan, serta dalam pengelolaan dan pemanfaatannya dikenal dengan istilah Wilayah Pertambangan (WP). Secara lebih sederhana dapat diartikan bahwa potensi pertambangan yang ada di suatu ruang di suatu daerah agar dapat dieksplorasi dan dieksploitasi maka terlebih dahulu ruang tersebut harus ditetapkan sebagai WP. Untuk dapat menetapkan suatu ruang sebagai WP maka diperlukan data-data potensi pertambangan yang ada di dalam ruang tersebut.
Provinsi Banten merupakan salah satu provinsi di Pulau Jawa yang memiliki potensi sumber daya alam pertambangan yang cukup potensial. Sebagian besar potensi tersebut terdapat di wilayah Banten bagian selatan, yang salah satu diantara potensi sumber daya alam pertambangan yang dimiliki adalah batu gamping atau yang dalam istilah geologi sering dikenal dengan nama limestone.
Batu gamping adalah salah satu mineral industri yang banyak digunakan oleh sektor industri ataupun konstruksi dan pertanian, antara lain untuk bahan bangunan, batu bangunan, bahan penstabil jalan raya, pengapuran untuk pertanian, bahan keramik, industri kaca, industri semen, pembuatan karbit, untuk peleburan dan pemurnian baja, untuk bahan pemutih dalam industri kertas pulp dan karet, untuk proses pengendapan bijih logam dan industri gula.
Berdasarkan peta geologi, wilayah Kabupaten Lebak memiliki sebaran bahan galian batu gamping yang terdapat di berbagai formasi batuan. Potensi tersebut sampai saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal disebabkan belum tersedianya informasi yang dapat ditindaklanjuti oleh investor untuk melakukan investasi.
Informasi sebaran batu gamping yang dibutuhkan oleh para pengguna, yaitu berkaitan dengan sebaran karst yang memiliki nilai keanekaragaman hayati dan non hayati serta mempunyai nilai-nilai ilmiah, ekonomi dan kemanusiaan, merupakan suatu kekayaan sumberdaya yang perlu ditata sejak awal. Nilai keanekaragaman hayati dan nirhayati yang dimilikinya merupakan sisi penting yang mewakili keanekaragaman bumi (Geodiversity). Nilai-nilai tersebut terangkum dalam aspek dasar yang dimiliki kawasan karst, yang cenderung bersifat strategis (Sudarsono, 2001).
Berdasarkan hasil analisa geologi lingkungan terhadap hasil inventarisasi batu gamping yang ada di Kabupaten Lebak oleh Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten, maka batu gamping yang memiliki prospek untuk kegiatan penambangan, antara lain : sebaran batu gamping Pasir Curi (Bayah Timur), sebaran batu gamping Guhawayang, dan sebaran batu gamping Bojongmanik. Adapun penyebaran dan deskripsi lapangan keprospekan batu gamping dijelaskan sebagai berikut:

 
A.   Batu Gamping Pasir Curi-Guhawayang
Batu gamping yang berasal dari Formasi Citarate, terdapat di wilayah perbukitan Pasir Curi menerus ke perbukitan Guhawayang. Sebaran batu gamping secara administratif berada di Kecamatan Bayah. Dari gambar tersebut sebaran batu gamping ini memiliki keuntungan dari segi transportasi, yaitu adanya sarana jalan yang menghubungkan Kota Bayah ke Kawasan Pertambangan Cikotok ke arah utara dan yang menghubungkan dengan Sukabumi melalui Cijengkol. Kedua jalan tersebut membelah penyebaran batu gamping.

> Morfologi
Morfologi yang ditempati batu gamping di daerah ini merupakan perbukitan yang memanjang dengan ketinggian bergelombang antara 35 – 150 m di atas permukaan laut dan vegetasi yang menempatinya umumnya alang-alang diperbukitan dan kebun campuran di lembah-lembah tempat keluarnya mata air. Fenomena eksokarst tidak menunjukkan keunikan bentang alam karena proses karstifikasi pada fenomena endokarst ini tidak berlanjut sehingga hanya terbentuk cerukan-cerukan kecil, sempit, dan dangkal, tidak menunjukan bentukan gua karst yang baik.

> Sifat Fisik
Sebaran batu gamping Pasir Curi-Guhawayang yang memanjang barat-timur, sementara di bagian selatan adalah Cidihil dan berhubungan atau kontak dengan penyebaran  batu  pasir kuarsa Bayah dan dibagian utara merupakan kontak litologi antara batu gamping dengan batu pasir. Kedua batas ini merupakan batas struktur berupa sesar. Batu gamping ini mempunyai perlapisan berarah relatif barat-timur dengan kemiringan sekitar 45 ke arah utara dan selatan, dengan demikian terdapat rekahan-rekahan yang dipengaruhi oleh struktur sinklin yang berkembang berarah barat-timur.

Secara megaskopis batu gamping memperlihatkan warna keabu-abuan, bersifat padu, banyak mengandung fosil moluska dan foraminifera, dalam keadaan lapuk berwarna kuning kecoklatan. Sedangkan secara mikroskopis atas contoh batuan yang tersayat, mineralogy batuan ini terdiri atas mineral karbonat yang sudah mengalami pengotoran berwarna putih kusam, masa dasar lumpur karbonat, fosil algae, ganggang, adanya lubang-lubang yang telah terisi oleh mineral lempung, sehingga menurut klasifikasi Dunham (1962) batu gamping Pasir Curi-Guhawayang memiliki jenis wack stone.  
Foto  singkapan  batu  gamping Pasir Curi, Kecamatan Bayah, berwarna  keabu - abuan  bersifat padu,  banyak mengandung fosil  moluska  dan  foraminifera,  termasuk Formasi Citarate. Tanah   penutup  relative  tipis  (> 1 meter),   dalam  keadaan lapuk berwarna kuning kecoklatan

>  Penggunaan Lahan dan Arah Pemanfaatan Ruang
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, maka kondisi penggunaan lahan eksisting berupa hutan, perkebunan, dan kebun campuran. Sementara itu arah pemanfaatan ruang yang terdapat di dalam RTRW Kabupaten Lebak termasuk kawasan budi daya pertanian berupa tanaman pangan lahan kering dan tanaman keras tahunan.

>  Sifat Kimia
Penentuan kualitas batu gamping telah dilakukan dengan analisa kimia terhadap 7 (tujuh) contoh yang diambil di lapangan. Dari Pasir Curi sebanyak 3 contoh dan dari Guawayang sebanyak 4 contoh. Hasil analisa menunjukkan kadar CaO yang ada di Pasir Curi dan Guawayang berkisar antara 50-55%, ini menunjukkan batu gamping disini cukup murni.

Hasil Analisa Kimia Contoh Batu Gamping 
dari wilayah Pasir Curi-Guhawayang Kabupaten Lebak


No
Unsur yang dianalisa
(%)
No Contoh Batuan
PC-1
PC-2
PC-3
GW-1
GW-2
GW-3
GW-4
1
SiO2
0,41
0,36
1,33
1,36
3,84
0,49
1,32
2
Al2O3
0,69
0,40
0,61
0,80
1,04
0,61
0,62
3
Fe2O3
0,22
0,12
0,12
0,20
0,11
0,25
0,11
4
CaO
54,40
56,44
49,19
54,81
52,45
54,65
49,20
5
MgO
0,55
0,38
5,02
1,39
0,81
0,52
5,22
6
K2O
0,50
0,07
0,10
0,05
0,17
0,45
0,08
7
Na2O
0,12
0,11
0,12
0,07
0,07
0,10
0,11
8
TiO2
0,00
0,00
0.06
0,01
0,02
0,02
0.09
9
LO1
43,47
42,12
43,39
42,21
41,49
43,27
43,19
     Sumber : Hasil Analisa Pusat Sumber Daya Mineral (2010)

>  Tanah Penutup
Tanah pelapukan berupa lempung mengandung fragmen batu gamping, berwarna coklat kekuningan, plastisitas tinggi, permeabilitas sangat rendah, konsistensi lunak hingga teguh, dengan ketebalan tanah pelapukan antara 0,50 sampai 1,00 meter.


>  Perhitungan Cadangan
Untuk mendapatkan cadangan yang nyata, maka digunakan peta topografi skala 1 : 5.000 berdasarkan modifikasi peta rupa bumi skala 1 : 25.000. Hasil interpretasi foto satelit dari Google yang di tumpang susunkan dengan peta sebaran batu gamping skala 1 : 25.000, maka dapat dilakukan perhitungan volume cadangan dengan cara mengambil batas bawah dari puncak tertinggi yaitu 50 meter, maka diperoleh angka cadangan hipotetik batu gamping Pasir Curi-Guhawayang sebesar 323.300.000 m3, setelah dikurangi perkiraan ketebalan tanah penutup. Apabila berat jenis batu gamping rata-rata dianggap 2,00 maka akan diperoleh cadangan yang dapat ditambang sebanyak 646.600.000 ton.

Peta Cadangan Batu Gamping Pasir Curi-Guhawayang

 
B.   Batu Gamping Cilograng
>  Morfologi
Morfologi daerah ini merupakan perbukitan bergelombang yang memanjang. Selama penyelidikan berlangsung fenomena eksokarst tidak terlihat, sehingga tidak memiliki keunikan bentang alam. Sementara itu fenomena endokarst juga tidak menunjukan keunikan, gua jarang ditemukan hanya berupa cerukan-cerukan kecil dan dangkal. Kebanyakan cerukan-cerukan yang ditemui tidak berair. Fenomena itu terjadi diperkirakan wilayah Cilograng dan sekitarnya memiliki intensitas curah hujan tahunan relative rendah, yaitu kurang dari 2000 mm/tahun.

> Sifat Fisik
Secara geologi batu gamping Cilograng termasuk Formasi Citarate (Sujatmiko,dll, 1992). Berdasarkan hasil pengamatan lapangan batu gamping ini memiliki sisipan batu lempung gampingan, batu pasir gampingan, dan breksi volkanik. Sementara itu secara administrasi sebagian besar termasuk Kecamatan Cilograng dan sebagian kecil termasuk Kecamatan Sawarna. Adapun desa-desa yang masuk sebaran batu gamping ini, diantaranya : Desa lebaktipar, Desa Cipicung, Desa Pasirsalam, Desa Cilograng, Desa Lebakkoneng, dan Desa Cisarua.
Pencapaian daerah relative mudah karena memiliki keuntungan dari segi transportasi, yaitu adanya sarana jalan yang menghubungkan Kota Bayah ke wilayah Kabupaten Sukabumi melalui Kecamatan Sawarna dan Kecamatan Cilograng. Di beberapa tempat jalan tersebut membelah sebaran batu gamping.
Batu gamping ini mempunyai penyebaran barat-timur dan telah mengalami perlipatan serta pensesaran yang cukup komplek. Oleh karena itu batas sebaran pada umumnya dikontrol oleh struktur geologi yang berkembang.
Foto Rombakan batu gamping yang banyak tersingkap di pinggir jalan antara Sawarna – Cilograng, termasuk Formasi Citarate

Secara megaskopis batu gamping berwarna kuning kecoklatan (keruh) sampai segar putih keabu abuan, mengandung fosil koral sebagai fragmen, keras dan kompak, besar butir halus sampai sedang, porositas sedang, kompak dengan campuran bersifat pasiran. Sedangkan secara mikroskopis atas contoh batuan yang tersayat, mineralogi batuan ini terdiri atas mineral karbonat yang sudah mengalami pengotoran berwarna putih kusam, masa dasar lumpur karbonat, fosil algae, ganggang, adanya lubang-lubang yang telah terisi oleh mineral lempung, maka berdasarkan klasifikasi Dunham (1962) termasuk batu gamping jenis wack stone.

> Sifat Kimia
Untuk memverifikasi dan menentukan kualitas batu gamping Cilograng Kabupaten Lebak, maka telah dilakukan analisa kimia pada 7 (tujuh) contoh yang diambil dari lapangan. Hasilnya menunjukkan kadar CaO antara 55% sampai 60%, artinya sifat kimia demikian menunjukkan batu gamping Cilograng termasuk batu gamping murni.

Hasil Analisa Kimia Contoh Batu Gamping dari wilayah Cilograng Kabupaten Lebak

No
Unsur Yang Dianalisa
%
No. Contoh Batuan
CG-1
CG-2
CG-3
CG-4
CG-5
CG-6
CG-7
1
SiO2
0,43
0,32
1,31
1,30
1,84
0,60
1,02
2
Al2O3
0,67
0,30
0,63
0,86
1,05
0,50
0,52
3
Fe2O3
0,20
0,16
0,10
0,10
0,10
0,20
0,11
4
Cao
57,47
59,54
55,26
57,12
54,54
58,07
54,60
5
MgO
0,50
0,37
1,02
1,19
0,71
0,42
2,22
6
K2O
0,55
0,08
0,10
0,05
0,26
0,25
0,08
7
No2O
0,11
0,10
0,12
0,07
0,08
0,10
0,11
8
TiO2
0,01
0,01
0.05
0,01
0,02
0,02
0.09
9
LO1
40,42
39,12
41,35
40,20
41,40
40,20
40,19
     Sumber : Hasil Analisa Pusat Sumber Daya Mineral (2010)

> Penggunaan Lahan Dan Arah Pemanfaatan Ruang
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, memperlihatkan penggunaan lahan eksisting berupa hutan, perkebunan, dan kebun campuran. Sementara itu arah pemanfaatan ruang yang terdapat di dalam RTRW Kabupaten Lebak, termasuk kawasan budi daya pertanian berupa tanaman pangan lahan kering dan tanaman keras tahunan.

> Tanah Penutup
Tanah pelapukan berupa lempung kerikilan, berwarna coklat kekuningan, plastisitas tinggi, permeabilitas sedang, konsistensi teguh, dengan ketebalan tanah pelapukan antara 0,50 sampai 1,00 meter.

> Perhitungan Cadangan
Untuk mendapatkan cadangan yang nyata, maka digunakan peta topografi skala 1 : 5.000 berdasarkan modifikasi peta rupa bumi skala 1 : 25.000, dan hasil interpretasi foto satelit dari Google, maka dapat dilakukan perhitungan volume cadangan dengan perkiraan batas bawah dari puncak tertinggi yaitu 50 meter, maka diperoleh angka cadangan hipotetik batu gamping Cilograng sebesar 401.050.000 m3, setelah dikurangi perkiraan ketebalan tanah penutup. Apabila berat jenis batu gamping rata-rata dianggap 2,00 maka akan diperoleh cadangan yang dapat ditambang sebanyak 802.100.760.000 ton.

Cadangan Batu Gamping Cilograng
 
C.   Batu Gamping Bojongmanik
Batu gamping Bojongmanik secara geologi dapat di masukan ke dalam Formasi Badui, tersebar di selatan Kampung Bojongmanik sampai Parakanbeusi menerus ke Sungai Cibeunyeur, sebelah selatan dan timur berada di Kampung Cimayang.

> Morfologi
Morfologi batu gamping Bojongmanik memperlihatkan perbukitan yang terjal yang hanya memperlihatkan tonjolan-tonjolan kecil batu gamping yang tidak memperlihatkan fenomena eksokarst yang memiliki keunikan bentang alam. Demikian pula fenomena endokarst kurang berkembang dan tidak berlanjut, dicirikan dengan tidak terbentuknya gua-gua berair, dangkal, kecil dan sempit, lebih umum dikatakan cerukan-cerukan batu gamping.

> Sifat Fisik
Secara megaskopis merupakan batu gamping terumbu yang tersingkap dalam keadaan segar, berwarna abu-abu muda sampai putih kotor, mengandung alge dan kandungan koral, setempat-setempat di jumpai adanya sisipan napal tipis berwarna abu-abu, kompak, pejal dan padu.


Singkapan Batu gamping Bojongmanik yang termasuk Formasi Badui, merupakan batu gamping terumbu berwarna abu-abu muda sampai putih kotor, bersifat keras. Kristalin, terdapat retakan-retakan. Dalam keadaan melapuk berwarna putih kecoklatan

Sementara itu secara mikroskopis mempunyai tekstur klastik dengan komposisi ganggang, fosil sebanyak 50% dan mineral karbonat 40% yang tampak saling menyangga dengan ukuran butir mencapai 3,20 mm. Dengan demikian kualitas batu Gamping di wilayah Bojongmanik yang memiliki kadar CaO antara 52 – 53% dan MgO kurang dari 1%, maka berdasarkan klasifikasi Dunham (1962) termasuk jenis batu gamping pack stone.

> Penggunaan Lahan dan Arah Pemanfaatan Ruang
Penggunaan lahan eksisting pada batu gamping ini pada umumnya berupa Hutan produksi, alang-alang, kebun campuran dan peladangan. Sementara itu penggunaan lahan berdasarkan rencana tata ruang diperuntukan sebagai kawasan tanaman pangan lahan kering dan tanaman keras tahunan yang keduanya menunjukkan produktifitas lahan sedang. Saran transportasi ke lokasi batu gamping ini sudah cukup baik, sehingga pergerakan kegiatan pertambangan akan lebih efektif. Yang perlu diperhatikan adalah lebar jalan dan tonase jalan perlu disesuaikan.

> Sifat Kimia
Sebelum berangkat ke lapangan, pengetahuan tentang kualitas batu gamping Bojongmanik telah dimiliki melalui data hasil analisa laboratorium kimia yang pernah dilakukan oleh Jurusan Geologi UNPAD yang bekerjasama dengan Dinas Pertambangan pada tahun 1990, maka pengambilan sampel saat pekerjaan lapangan di wilayah Bojongmanik sebanyak 5 (lima) contoh (sampel).
Hasil analisa menunjukan kadar CaO berkisar antara 50 - 55%, ini menunjukan batu gamping disini cukup murni, sementara pada beberapa tempat, misalnya di Citorek menunjukan kadar CaO-nya 38% dan MgO-nya 17%, sehingga endapan batu gampingya termasuk jenis dolomit.
Data hasil uji laboraturium selain dilaksanakan berdasarkan sampel yang dimbil pada saat penyelidikan lapangan, juga memanfaatkan hasil laboratorium yang pernah dilakukan oleh Jurusan Geologi bekerjasama dengan Dinas Pertambangan pada tahun 1990.
 
Hasil Analisa Kimia Contoh Batu Gamping di Wilayah Bojongmanik Kabupaten Lebak


No
Unsur Yang Dianalisa
(%)
No. Contoh Batuan
BM-1
BM-2
BM-3
BM-4
BM-5
1
SiO2
0,49
0,25
1,30
3,85
0,32
2
Al2O3
0,71
0,50
0,86
1,03
0,52
3
Fe2O3
0,20
0,02
0,22
0,12
0,21
4
Cao
54,51
56,56
53,89
52,49
45,20
5
MgO
0,44
0,37
1,35
0,91
10,22
6
K2O
0,50
0,02
0,03
0,07
0,05
7
Na2O
0,10
0,17
0,07
0,08
0,08
8
TiO2
0,00
0,00
0,01
0,01
0.15
9
LO1
43,41
42,11
42,27
41,44
43,19
Sumber : Hasil Analisa Pusat Sumber Daya Mineral (2010)

Hasil Analisa Kimia Contoh Batu Gamping di Wilayah Bojongmanik Kabupaten Lebak


No
Unsur Yang Dianalisa
(%)
No. Contoh Batuan
L.26a
L.26b
L.26c
L.26d
L.31a
L.31b
L.31c
1
SiO2
0,79
0,22
0,39
5,44
0,42
2,62
4,72
2
Al2O3
0,41
0,53
0,86
1,05
0,41
2,98
1,65
3
Fe2O3
0,10
0,03
0,20
0,17
0,22
0,30
0,40
4
Cao
55,71
55,11
53,20
50,83
38,29
38,01
49,57
5
MgO
0,24
0,37
1,37
0,91
17,12
12,12
1,43
6
K2O
0,5
0,01
0,01
0,02
0,06
0,07
0,03
7
Na2O
0,2
0,09
0,08
0,07
0,07
0,20
0,07
8
TiO2
0,00
0,00
0,00
0,02
0.15
0,00
0,00
9
LO1
42,41
43,64
43,89
41,49
43,20
43,70
42,13
   Sumber : Jurusan Geologi Unpad (1990) 

> Tanah Penutup
Tanah pelapukan berupa lempung mengandung fragmen batu gamping, berwarna coklat kekuningan, plastisitas tinggi, permeabilitas sedang, konsistensi lunak hingga teguh, dengan ketebalan tanah pelapukan umunnya antara 0,50 sampai 1,00 meter. Sementara itu dibeberapa tempat ketebalan tanah kurang dari 0,50 meter, sehingga batu gamping banyak muncul kepermukaan.


> Perhitungan Cadangan
Untuk mendapatkan cadangan yang nyata, maka digunakan peta topografi skala 1 : 5.000 berdasarkan modifikasi peta rupa bumi skala 1 : 25.000 dan hasil interpretasi foto satelit dari Google yang di tumpang susunkan dengan peta sebaran batu gamping skala 1 : 25.000.
Berdasarkan peta topografi tersebut dilakukan perhitungan volume cadangan dengan cara mengambil batas bawah dari puncak tertinggi yaitu 50 meter, maka diperoleh angka cadangan batu gamping daerah Bojongmanik sebesar 563.053.300 m3, setelah dikurangi perkiraan ketebalan tanah penutup. Apabila berat jenis batu gamping rata-rata dianggap 2,00 maka akan diperoleh cadangan yang dapat ditambang sebanyak 1.126.106.600 ton


Cadangan Batu Gamping Bojongmanik

No comments:

Post a Comment