Wisata Geologi Dalam Pariwisata Banten (oleh : Eko Palmadi)


Wilayah Banten terletak bersebelahan dengan Jawa Barat, Jakarta dan pulau Sumatera. Populasi penduduk Banten mencapai 9.782.779 orang berdasarkan data tahun 2009, yang tersebar di empat daerah Kabupaten dan empat Kota. Yaitu kabupaten Tangerang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang dan Kabupaten Lebak. Serta empat Kota yaitu
Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan kota Cilegon dengan jumlah penduduk terbesar, kemudian Kota Serang sebagai ibu kota Provinsi Banten. Secara geografis terletak di selatan garis katulistiwa, Banten beriklim tropis dengan dua musim yaitu hujan dan kemarau, dengan suhu udara rata-rata 28 hingga 32 derajat celcius.Topopgrafinya di  bagian selatan merupakan daerah berbukit bergelombang, sementara bagian utara merupakan daerah pedataran rendah / pantai. Hasil utama Banten diantaranya pertanian, industri dan pertambangan.

Masyarakat Banten memiliki akar agama yang kuat dengan budaya asli yang masih eksis dalam kehidupan keseharian mereka. Agama utama masyarakat Banten adalah Islam, yang tiba di wilayah ini bersamaan dengan tersebarnya agama Islam di wilayah Sumatra dan Sulawesi pada sekitar abad ke 15. Dengan kuatnya pengaruh agama Islam di Banten maka terdapat beberapa lokasi wisata religius yang cukup popular diantaranya bekas bangunan di komplek keraton Kesultanan Banten atau disebut sebagai kawasan Banten Lama yang didalamnya terdapat mesjid tua Banten sebagai peninggalan Sultan Hasanudin. Selain mesjid juga terdapat beberapa makam yang dikeramatkan, sehingga banyak dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah di Indonesia termasuk dari luar negeri, seperti makam Sultan Banten dan beberapa makam lainnya seeperti di Cikadueun, Caringin, Gn. Santri dll. Obyek-obyek tersebut menjadi obyek wisata religius yang banyak dikunjungi.

Selain wisata religi juga terdapat wisata alam dan wisata tradisional. Wisata alam berupa pantai, seperti pantai Anyer, pantai Carita, Bagedur, Tanjung Lesung, Pulau Umang, Karang Taraje, pantai Sawarna dan Tanjung Layar, Taman Nasional Ujung Kulon atau arung jeram di sungai Ciberang dan obyek wisata Gunung Krakatau.

Banten juga memiliki wisata tradisional berupa masyarakat adat di Baduy dan Cisungsang di Banten kidul.
Masyarakat tradisional baduy terdapat di kabupaten Lebak. Suku ini terbagi dua, yaitu Baduy luar dan Baduy dalam. Mereka hidup dengan berpegang kepada tradisi adat yang bersahaja selaras dengan alam dan menghindari kehidupan dunia luar yang modern. Selain itu masyarakat Baduy terkenal dengan taat dan hormat kepada pimpinan sehingga setiap tahun mereka melakukan Seba dengan melakukan perjalanan jauh ke ibu kota provinsi untuk menghadap pimpinan.
Masyarakat adat Cisungsang tinggal di kecamatan Cibeber, kabupaten Lebak. Kesenianya yang terkenal adalah  rengkong, angklung buhun dan bendrong lesung. Di Cisungsang yang menjadi pusat Kasepuhan Banten Kidul juga melaksanakan upacara Seren Taun, merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat petani Sunda sebagai bentuk penghormatan pada leluhur, seperti umumnya masyarakat agraris di daerah lain di Indonesia.

Bagaimana dengan geowisata atau wisata yang berbasis geologi di Banten. Geowisata merupakan pariwisata dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam seperti bentuk bentang alam, batuan, struktur geologi dan sejarah kebumian. Contoh objek geowisata adalah gunung berapi, danau, air panas, pantai, sungai, dan lain-lain.

Di Banten sebenarnya terdapat berbagai obyek geologi yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata, sebagai salah satu contoh adalah bekas tambang emas di daerah Cikotok, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Telah tercatat di dalam sejarah bahwa penambangan emas di Banten telah dimulai dari sejak zaman Belanda yaitu di Cikotok ini. Cikotok telah ditemukan sejak tahun 1839 yang kemudian dieksploitasi mulai tahun 1936 oleh perusahaan Belanda N.V. Mijnbauw Maatschapij Zuid Bantam (MMZB). Pada  1939 hingga tahun 1942 terpaksa terhenti akibat terjadinya Perang Dunia II. Selama pendudukan Jepang 1942 – 1945, kegiatan tambang dikerjakan oleh perusahaan Jepang Mitsui Kosha Kabushiki Kaisha tetapi tidak menambang emas melainkan timah hitam timbal (Pb) di Cirotan untuk keperluan produksi amunisi.
Pada masa pemerintahan Sukarno tahun 1958, tambang emas Cikotok diresmikan dan dikerjakan oleh NV Tambang Emas Tjikotok (TMT) yang berada di bawah manajemen NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan (P3). Setelah beberapa kali berganti induk perusahaan, pada tanggal 5 Juli 1968 tambang emas Cikotok dikelola oleh PN Aneka Tambang (BUMN) yang lalu berubah menjadi PT Aneka Tambang sejak 1974 dan sekarang kemudian dikenal sebagai PT Antam.
 
Salah satu situs eks tambang emas peninggalan zaman Belanda
Tambang emas Cikotok telah mengalami perjalanan yang sangat panjang, dimulai dari zaman belanda tahun 1936, zaman penjajahan jepang, jaman kemerdekaan dan berakhir di era reformasi ini karena telah kehabisan cadanganDalam perjalanannya yang panjang, selain telah dihasilkan berton-ton emas dari wilayah Cikotok, Cirotan dan Cikidang. Tambang Cikotok telah kehabisan cadangan karena wilayahnya telah ditetapkan menjadi Taman Nasional Gunung Halimun - Salak yang menjadi wilayah konservasi hutan sehingga seluruh aktivitas pertambangan harus berakhir. Namun demikian hingga saat ini kegiatan penambangan liar oleh masyarakat tetap dilaksanakan dan setiap harinya berkilo-kilo emas dihasilkan dari tambang liar tersebut.

Bekas  pertambangan emas Cikotok  akan menjadi artefak benda cagar budaya, monument kejayaan pertambangan emas di Banten dan dapat dijadikan tujuan wisata ilmiah dan juga dapat di manfaatkan menjadi tempat pendidikan atau laboratorium alam bagi ilmu kebumian.

Mulut Tambang
Obyek wisata geologi lainnya adalah Gn. Anak Krakatau. Gunung ini terletak di bagian barat Banten, ditengah Selat Sunda yang secara administratif sebenarnya masuk ke wilayah Provinsi Lampung. Dalam catatan sejarah Gunung Krakatau pernah terjadi letusan besar pada tahun 1883 dan mengakibatkan lebih dari 40.000 orang menjadi korban.  Krakatau termasuk obyek wisata yang menarik dan banyak dikunjungi terutama oleh turis asing karena hingga saat ini aktifitasnya cukup tinggi.

Gn. Anak Krakatau
Masih di bagian barat wilayah Banten yaitu di Kabupaten Serang, terdapat obyek wisata geologi sumber air panas, pegunungan dan danau yaitu di daerah Batukuwung, Padarincang dan Ciomas. Dari dongeng geologinya adanya air panas ditempat ini bersumber dari aktivitas vulkanik atau kegunungapian dari deretan pegunungan yang berada di daerah tersebut yaitu Gn. Karang, Gn. Aseupan, dan Gn. Pulosari. Di Gn. Karang dan Gn. Pulosari terdapat kawah dengan aktivitas fumarola. Kemudian didaerah tersebut juga terdapat danau yang diberi nama Rawa Dano, merupakan danau yang  berada di daerah ketinggian sebagai hasil depresi berupa graben yang membentuk danau besar. Danau ini juga ada yang memperkirakan sebagai kawah besar dari Gn Sunda. Saat ini danau tersebut menjadi wilayah konservasi yang sudah diakui secara mendunia. Di daerah tersebut memiliki potensi panas bumi yang akan segera dimanfaatkan untuk pembangkit listri tenaga panas bumi (PLTP) dengan kapasitas 110 Mw pada tahap pertama. Dengan demikian daerah tersebut akan semakin menarik sebagai obyek wisata geologi.

Salah satu manifestasi panas bumi di sekitar Gn. Pulosari
Obyek wisata geologi lainnya yang berpotensi untuk dikembangkan adalah Tanjung Layar dan Goa Kars di daerah Sawarna, serta batu fosil atau batu sempur di daerah Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak.

Tanjung Layar adalah obyek wisata pantai di Desa Sawarna, Kabupaten Lebak.  Pantai Tanjung Layar, terkenal dengan dua batu besar yang digambarkan berbentuk seperti layar perahu. Bongkahan batu ini merupakan sisa abrasi gelombang laut yang nampak menonjol seperti layar, proses pembentukannya merupakan proses alam yang terjadi selama jutaan tahun. Sehingga tempat ini dinamakan Tanjung Layar. Pantainya dikelilingi oleh gugus karang. Jika airnya sedang surut, kita dapat menyebrang menuju dua batu tersebut. Menaikinya atau sekedar berfoto dengan latar belakang kedua batu tanjung layar tersebut.

Tanjung Layar Sawarna
Selain obyek wisata Pantai, terdapat juga objek wisata alam lainnya seperti gua, yang merupakan gua kars. Kars adalah bentuk bentang alam yang khas  disuatu daerah yang terbentuk oleh batuan jenis karbonat seperti batu gamping atau kapur. Proses pelarutan batuan tersebut merupakan proses yang terjadi secara alami dan berlangsung jutaan tahun sampai pada kondisi tertentu membentuk bentang alam yang khas.  Proses tersebut disebut juga sebagai proses geologi yang diawali dengan proses pembentukan terumbu karang pada laut yang dangkal dengan kondisi air laut yang hangat dan tingkat kegaramannya cukup mendukung. Setelah terbentuk terumbu karang ditempat tersebut terjadi proses pengangkatan menjadi daratan sebagai contoh seperti batu gamping yang dijumpai di  daerah Padalarang, Bandung. Proses selanjutnya adalah proses pelarutan batugamping tersebut yang kemudian membentuk topografi Kars. Tatanan geologi dan sistim tata air menjadi pengendali utama proses pembentukan bentang alam kars atau proses karstifikasi. Bentang alam kars biasanya dicirikan dengan adanya bukit-bukit dengan bentuk yang khas, dolina, uvala, polje, lembah kering, telaga, mata air, gua kapur dan sungai bawah tanah.  Karst memiliki potensi sumberdaya alam berupa hayati, air dan lansekap. Sesungguhnya potensi kawasan karst yang memiliki ciri-ciri spesifik ternyata juga menjadi habitat bagi beberapa jenis satwa tertentu sebut misal burung Sriti, Burung Walet, Kelelawar yang tinggal di gua-gua di kawasan karst. Salah satu potensi ekonomis kawasan karst yang lain adalah potensi untuk pengembangan kawasan pariwisata.

Di kawasan Sawarna ini dapat di jumpai beberapa gua kars seperti  Gua Lalay, Gua Sikadir, Gua Cimaul, Gua Singalong dan Bukit Pasir Tangkil.
Di antara gua yang terdapat di Sawarna, Gua Lalay yang paling terkenal dan banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Gua ini dinamakan Gua Lalay dalam bahasa sunda “Lalay” artinya kelelawar, karena memang di langit-langit gua terdapat banyak dihuni kelelawar.  Gua lalay merupakan gua batu gamping (karst) yang memiliki stalagmit dan stalaktit yang indah menghiasi dinding dan langit-langit gua selain itu juga memiliki banyak lorong yang bercabang dan lorong utamanya dialiri oleh sungai bawah tanah yang tidak pernah kering.

Gua Lalay
Selain gua, ada lagi objek wisata seperti Tapak Sikabayan dan makam orang Belanda yang bernama Jean Louis Van Gought yang konon katanya orang pertama yang membuka lahan di Sawarna dengan membuka lahan perkebunan kelapa yang sudah menjadi program pemerintahan Hindia - Belanda pada tahun 1907.
Demikianlah sekelumit beberapa obyek wisata di Wilayah Banten khususnya yang berhubungan dengan geologi atau ilmu kebumian. Tinggal bagaimana mengemas potensi yang ada sehingga menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan. Lokasi-lokasi seperti Tambang Cikotok, Kampung Baduy, kampung adat Cisungsang, Pantai Sawarna dengan Batu Layar dan gua-gua kars nya relatif jauh untuk dijangkau. Untuk mencapainya memerlukan perjalanan yang cukup jauh. sehingga memerlukan kemasan paket wisata yang menarik serta dukungan infrastruktur yang baik agar wisatawan merasa nyaman untuk menuju dan tinggal dilokasi-lokasi wisata tersebut.
Lokasi-lokasi tersebut berpotensi untuk dikembangkan sebagai upaya peningkatan kunjungan wisata ke Banten setelah lokasi-lokasi yang telah ada lebih dahulu seperti Pantai Carita, Pantai Anyer, Banten Lama mulai jenuh untuk dikunjungi. Apalagi dengan kondisi kedua pantai tersebut sebagian besar berkesan bukan sebagai pantai umum sehingga wisatawan cukup sulit untuk dapat mengakses pantai tersebut. Tanah di sepanjang pantai telah menjadi lahan hotel atau milik perseorangan yang dikomersialkan sehingga berkesan mahal dan tertutup untuk dapat mengakses pantai. Hal ini dapat kita bandingkan dengan pantai-pantai di Pelabuhan Ratu atau Pangandaran yang lebih terbuka. Dengan jenuhnya wilayah tersebut maka daerah Banten Selata harus dikembangkan menjadi andalan tujuan wisata baru dengan kemasan wisata alam atau geologi dan wisata budaya dengan menjual keindahan pantai dan gua kars di Sawarna, adat budaya Baduy dan Cisungsang serta sejarah tambang emas Cikotok dalam satu paket perjalanan wisata dimana wisatawan diajak bermain di pantai dan melihat gua kars kemudian menuju tambang emas Cikotok dan terakhir menginap dan menikmati budaya Baduy atau Cisungsang dengan nuansa tradisionalnya. Paket tersebut harus menjadi satu kesatuan agar wisatawan tidak merasa rugi karena harus menempuh perjalanan panjang menuju lokasi.
Akhirnya ini hanya sekedar pemikiran sederhana mudah-mudahan ada gunanya, karena semua akan berpulang kepada kita.
Beberapa foto kegiatan Seren Taun adat Banten Kidul di Cisungsang, Lebak (Suber : Dari beberapa dokumentasi pribadi dan pemberitaan)

Suasana Acara Seren Taun


3 comments:

  1. http://top-wisata.blogspot.com/2013/09/daftar-objek-wisata-bali-wajib-anda.html

    ReplyDelete
  2. Eko Palmadi, sebaiknya anda memeriksa tulisan anda lagi. Gn. Sunda yg. terkenal itu berada di Propinsi Jawa Barat di daerah Gn. Tangkuban Perahu, dan bukan di Propinsi Banten!

    ReplyDelete
  3. Terimakasih kak sudah nulis tentang artikel ini. sangat membantu banget setelah membacanya.
    jangan lupa kunjungi website kami yang di tidak kalah menarik juga ya dibawah ini
    Berikut link Harga Tiket wisata dari beberapa tempat wisata di indonesia .
    Harga Tiket The Lodge Maribaya

    Harga Tiket Taman Legenda Keong Mas

    Virtual Tour Indonesia

    Harga Tiket agung fantasi waterpark

    Harga Tiket watersplash darmawangsa

    Harga Tiket rinjani waterpark

    Harga Tiket Go splash panjibuwono

    Virtual Tour Indonesia

    ReplyDelete